Mahasiswa Stikom Surabaya Buat Alat Pemantau Pemakaian Listrik di Rumah lewat HP

by admin

SURYA.co.id | SURABAYA – Tren Industri 4.0 membuat mahasiswa kerap mengembangkan terobosan sistem terbaru sesuai dengan perkembangan industri.

Seperti alat monitoring listrik otomatis yang dibuat M Yaqub (22), Adrian Febiyanto (21), Syarif Hidayat (21)dan Sigit Wahono (22), mahasiswa semester tujuh prodi Teknik Komputer Isntitut Bisnis dan Informatika Stikom.

Mereka menciptakan aplikasi monitoring arus dan tegangan listrik menggunakan web browser yang dinamakan Sistem Monitoring dan controling Arus listrik Rumah Tangga (SMART).

Andrian mengungkapkan adanya alat ini bisa memantau arus yang kelebihan tegangan listrik. Selain itu dapat mencegah timbulnya trip (mati lampu) yang menyebabkan kebakaran akibat korsleting listrik.

“Alat ini lebih cocok untuk kos-kosan. Mempermudah pemilik kos untuk memantau pembayaran listrik sesuai pemakaian listrik jadi anak kos tidak dirugikan,” jelas Adrian saat memamerkan inovasi buatan timnya dalam Final Exam Collborations bertajuk Big Data, Internet of Things (IoT), dan Startup Festival di ruang Laksda Mardiono Kamis, (17/1/2019).

Dengan merangkai tiga komponen utama IoT dan pendeteksi arus ke setiap alat seperti lampu, kulkas dan mesin cuci dapat dimatikan dan dihidupkan arus listriknya dari jarak jauh.

“Kelebihan temuan kami ini tidak terbatas dalam penggunaan gadgetnya. Karena aksesnya bukan aplikasib tetapi web browser. Jadi bisa memakai semua jenis handphone,”urainya.

Dengan memakai alat yang mereka buat, pemilik rumah atau kosan bisa mengawasinya arus yang digunakan. Dan karena dengan kotrol arus maka bisa melihat biaya secara real time yang dihabiskan.

“Kontrol bisa dilakukan jarak jauh juga, misal mau perjalanan ke rumah, bisa menyalakan ac sehingga sesampai rumah sudah dingin. Saat pergi jauh, dan kelupaan bisa mematikan pengontrolan alat jarak jauhnya tanpa harus menyalakan koneksi,”urainya.

Untuk memasang alat pendeteksi pada setiap alat ini menurutnya menghabiskan biaya yang cukup terjangkau. Yaitu kurang dari Rp 100 ribu. Dibandingkan menambah alat meteran dari PLN yang cukup mahal.

Valentinus Roby Hananto, dosen Sistem Informasi mengungkapkan kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan daya saing dan eksplore skill mahasiswa.

Memanfaatkan ide-ide kreatif di dunia digital yang bermanfaat untuk masyarakat, mahasiswa dituntut memunculkan gagasan sekaligus dilatih membuat karya dalam bentuk aplikasi.

“Untuk menyikapi tren industri masa kini, anak muda yang memiliki banyak ide harus diberi fasilitas seperti festival ini. Selain itu dengan kompetisi, karya mahasiswa bisa diketahui masyarakat. Bagi peserta, dapat meningkatkan team work antarmahasiswa, sehingga dapat melihat sejauh mana kapasitasnya,” papar Roby.

Kegiatan ini, menurutnya baru pertama digelar Stikom. Sebanyak 13 tim finalis dari 5 startup, 5 big data, dan 3 IoT sudah melalui proses seleksi dan akan presentasi sekaligus mendemokan hasil karyanya di depan praktisi dari CEO Track ID, GM IT Strategi Semen Gresik dan Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Informasi Stikom Surabaya.

“Meskipun diambil dari karya mata kuliah, mahasiswa harus melakukan pengamatan fenomena di masyarakat,”pungkasnya.

Penambahan alat ini bisa digunakan untuk memantau penggunaan daya listrik dan mengontrolhidupnya aliran listrik di rumah melalui jaringan internet yang bisa diaplisikan berbgai  macam Operating Sistem (OS).

Sumber : Online | Kamis, 17 Januari 2019 | http://surabaya.tribunnews.com/2019/01/17/mahasiswa-stikom-surabaya-buat-alat-pemantau-pemakaian-listrik-di-rumah-lewat-hp?page=2