SEHARUSNYA SEMUA MAHASISWA NTT SUKSES

by admin

Sr. Angela Uran, CIJ

Minggu pagi, 28 Oktober 2018. Sr. Angela Uran, CIJ mengaku sangat capek ketika bertemu WF di teras gereja paroki Santo Yohanes Pemandi Surabaya. Walaupun begitu kebahagiaan nampak jelas dari biarawati yang lebih dari 7 tahun berkarya di SMAK Santo Clemens Boawae, kabupaten Nagekeo, NTT. Sehari sebelumnya Suster Angela diwisuda menjadi sarjana pada Program Studi Sistem Informasi, Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya.

Pemilik nama baptis Bernadete Detha Uran ini menuntaskan studi sarjananya tepat 4 tahun di kampus yang hingga 2014 bernama Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (STIKOM) Surabaya. “Semula target saya 3,5 tahun. Tetapi akhirnya tambah satu semester karena saya mengganti judul skripsi. Semula skripsi saya terkait sebuah sekolah di Malang. Tetapi dosen pembimbing menyarankan saya untuk menggantinya terkait sekolah di Flores”.

Ketika merasa tertekan karena harus mengulang proses pengerjaan skripsinya ia mendapat pengalaman istimewa dari seorang senior yang disapanya ‘Mama Suster’. “Ketika itu saya bilang ke Mama Suster tentang penggantian judul skripsi saya. Lalu Mama suster bilang ‘itu baik sekali. Saya senang sekali dengan saran dosenmu. Itu berarti Tuhan Yesus dan Bapa Pendiri Kongregasi, bersama suster yang telah berbahagia di surga, menghendaki supaya engakau dapat kerja sepenuhnya untuk kongregasi’. Tanggapan Mama Suster itu sangat meneguhkan saya sebagai seorang biarawati CIJ”. Demikian cerita Sr. Angela tentang seniornya pembina para suster novis di Ende.

Di lain kesempatan, alumnus SDK Hewa, SMPN Boru dan SMAK Yonpol Waibalun, Flores Timur ini kembali ke biara dengan wajah muram lalu meminta maaf karena salah satu nilai mata kuliahnya tidak seperti harapannya. Lagi-lagi, Sr. Angela memberikan tanggapan sungguh diluar dugaannya. “Nona, Tuhan melatih engklau untuk rendang hati. Kalau nilaimu ‘A’terus englau akan somobong dan angkuh. Ini besok beli baso makan senang-senang dengan teman di kampus”. Ini pengalaman yang sangat nenbekas. Saya dikasihi, diteguhkan, sehingga menjadi kuat.”

Sr, Angela menuntaskan studi sarjananya dengan skripsi berjudul : Rancang Bangun Aplikasi Pengolahan Nilai Akademik Berbasis WEB pada SMAK St. Clemens Boawae. Aplikasi yang dihasilakan akan menghemat waktu, tenaga dan biaya. Guru juga dapat mengakses dan menginput nilai dari rumah atau dari apa saja.

Majelis Minoritas

Ketika menjadi mahasiswa Stikom, demikian nama populer kampusnya, Sr. Angela nendapat pengelaman sebagai minoritas. “Di Stikom wanita adalah minoritas, karena yang kuliah di sini sebagaian besar laki-laki. Orang NTT di kampus ini juga masih sangat sedikit. Mahasiswa beragama Katolik juga kecil jumlahnya. Dan saya adalah satu-satunya biarawati di Stikom”.

Pengalaman sebagai minoritas itu sungguh menantang. Mulanya ada kesulitan-kesulitan yang dialami. Tetapi seiring berjalannya waktu, semua berganti menjadi pengalaman menyenangkan. “Sebagai institut bisnis, selama di kampus mahasiswa Stikom wajib mengenakan pakaian layaknya orang kantoran. Selama mengikuti orientasi kampus hingga tiga bulan pertama kuliah saya mengenakan pakaian sebagai awam. Semua berlangsung biasa saja. Dosen dan teman kuliah tidak ada yang tahu saya biarawati. Tapi justru saya yang merasa ada beban. Setiap kali keluar dari biara menuju kampus terjadi pertentangan dalam diri. Di satu sisi memang ada aturan kampus soal pakaian selama di kampus, tetapi di lain sisi saya adalah seorang biarawati”.

Bungsu dari 6 bersaudara pasangan Yosep Suda Uran (alm) dan Theresia Balik di kampung Hewa, kecamatan Wulunggitang, Flores Timur ini pun meberanikan diri menemui Dosen Wali dsan Ketua Program Studi. Ia meminta kebijakan untuk mengenakan pakaiannya sebagai biarawati selama di kampus. Sambutan Dosen Wali dan Ketua Program Studi sangat positif, sekaligus membantu memproses permintaan tersebut kepada Rektor.

Perubahan tampilan Sr. Angela ternyata menimbulkan rupa-rupa tanggapan. Ada yang menatap heran, ada yang menjadikan itu topik bahasan di antara mereka, ada pula yang menjauh. Tetapi tak kurang pula yang justru menyambut positif. Tak butuh waktu lama, Sr. Angela yang mudah bergaul ini sudah diterima dengan ramah oleh teman-teman kuliah maupun para dosen, termasuk dosen yangberagama Konghucu maupun yang berjilbab.

“Di antara teman kuliah sayalah yang paling senior. Bahkan salah seorang teman kuliah cowok mengatakan saya seperti tantenya”, cerita Sr. Angela sambil tertawa. “Mereka saya anggap seperti adik-adik saya sendiri. Saya sering jadi tempat curhat. Bukan hanya di kampus, mereka juga sering datang ke biara, bahkan bersama pacar mereka, sehingga berteman baik juga dengan suster lain di biara”.

Pengalaman berbaur jelas sangat membantu perjalanan studi Sr. Angela. “Untuk pengetahuan tentang software dan hardware mahasiswa harus belajar sendiri. Stikom melatih mahasiswanya untuk menciptakan program aplikasi.”

Sr. Angela punya cara sendiri untuk menyiasati ini. “Pengetahuan software dan hardware saya pelajari dari jurnal. Saya juga beruntung pernah mengikuti kursus hardware di Yogyakarta dan selama di SMA Clemens menjadi guru teknologi informasi. Sedangkan untuk perkuliahan di Stikom pada mata kuliah yang bagi saya ringan, saya akan bergabung dalam kelompok teman-teman yang agak lemah. Sehingga bisa membantu mereka. Sebaliknya, pada mata kuliah yang berat saya bergabung dengan teman-teman yang lebih mampu sehingga saya terbantu”.

Apa pelajaran hidup yang saya dapatkan dari pengalaman menjadi minoritas? “Seringkali intoleransi terjadi karena kita belum saling mengenal. Penting untuk membuka diri saling mengenal. Nyatanya setelah saling mengenal perbedaan tidak lagi menjadi penghalang tapi justru memperkaya kebersamaan kita”.

Peran Uskup Surabaya

Selama kuliah di Stikom Sr. Angela aktif di KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik), salah satu kegiatan rohani mahasiswa di kampusnya. Bahkan kehadirannya semakin menghidupkan KMK di kampusnya. Berbagai kegiatan rohani kemahasiswaan dalam lingkup kampus mereka giatkan sambil terlibat juga dalam kegiatan bersama KMK dari kampus lain.

“Kami ada kegiatan mingguan, doa bersama, sharing, ziarah ke-9 Gua Maria di Surabaya, ke Pohsarang Kediri, Natalan bersama dan macam-macam kegiatan lain. Jumat pertama ada misa di kampus dipimpin oleh Pater Kadek SDV dan Pater Okto SDV. Selain itu retret bersama teman-teman dari kampus lain. Semua difasilitasi keuskupan secara gratis”.

“Saya salut pada Uskup Surabaya. bapa Uskup sangat perhatian pada mahasiswa. Beliau bersama Vikjennya, Rm.Didik berkenan hadir dalam retret mahasiswa. Hal ini sangat membanggakan dan meneguhkan mahasiswa. Bahkan keuskupan tidak hanya perduli pada pertumbuhan iman tapi juga pada kehidupan akademik mahasiswa. Beliau berpesan kalau ada kesulitan di kos, datanglah ke uskupan. Basecamp kita ada di keuskupan. Ini sungguh mengesankan saya. Perhatian serupa saya rasakan dalam Forum Komunikasi Religius Keuskupan Surabaya, Bapa Uskup punya perhatian luar biasa”.

“Saya juga bangga dan bahagia melihat mahasiswa asal NTT sangat aktif dalam kegiatan rohani seperti ini. Rasanya tidak ada alasan mahasiswa asal NTT untuk gagal di Surabaya, asal ada kemauan, semangat juang dan ketekunan. Kalau sampau ada yang gagal itu semata-mata faktor dari diri sendiri. Karena itu penting sekali bagi mahasiswa NTT untuk aktif di berbagai kegiatan kampus, termasuk KMK. Dengan aktif di berbagai kegiatan kampus kita semakin membaur dengan teman-teman dari berbagai latar belakang, jejaring komunikasi juga menjadi luas, ketika ada kesulitan banyak orang yang kit akenal rela membantu”. Ungkap Sr. Angela, CIJ yang sudah 21 tahun hidup dalam kaul kebiaraannya.

Pengalaman hidup Sr. Angela membuktikan itu. Perjalanannya hingga menjadi sarjana adalah salah satu contohnya. Semua memang kembali kepada diri sendiri. Ketika kita mau membuka diri, dunia akan menjadi indah. “Saya merasa begitu dikasihi oleh kongregasi, komunitas, keluarga, sahabat, dosen dan teman-teman mahasiswa, maupun umat Allah di paroki Yohanes Pemandi”. (Leo Larantukan)

Sumber : Cetak | Majalah Warta Flabamora | Edisi 67 September 2018 | NTT Diaspora | Hal. 48-49 |