Semua Tentang Film di Caplin

by admin

Chandra merasa kecewa karena keinginannya untuk mendirikan unit kegiatan mahasiswa (UKM) khusus penyandang tunarungu ditolak kampus. Tentu saja mahasiswa disabilitas itu cukup terpukul. Di kampusnya ada sejumlah mahasiswa tuna rungu yang selama ini belum terwadahi dalam UKM. Bagi Chandra, mahasiswa tunarungu juga punya hak untuk mengembangkan kemampuan melalui UKM sebagaimana mahasiswa lainnya.

Cerita itu dicuplik dari film pendek berdurasi 15 menit berjudul minor yang diputar dalam acara Cangkruk Pilem Indie (Caplin) di hal M Radio Surabaya, Sabtu (23/3). Film yang diproduksi komunitas Wong Ndeso Production (WNP) Prodi Film dan Televisi Stikom Surabaya itu diputar bersama tiga film pendek lainnya yaitu film berjudul Do’a darikomunitas Epic Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo dan Sisi Production, Anil dari SMKN 12 Surabaya, serta Titik Dua dari komunitas Kofie.com Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya.

Selain pemutaran film, acara juga diisi dengan diskusi dan review film. Menurut ketua panitia, Mega Pandan Wangi, acara itu diadakan untuk menumbuhkan para peminat film indie, khususnya siswa dan mahasiswa di Surabaya. Seiring banyaknya jurusan film dan televisi di sekolah dan kampus, komunitas-komunitas film indie juga banyak tumbuh di Surabaya.

“Acara seperti ini penting untuk menambah wawasan dan pengetahuan sekaligus menerima banyak masukan dari berbagai pihak demi kemajuan karya-karya mereka, ” kata Pandan.

Acara yang berlangsung selama tiga jam itu dihadiri kurang lebih 100 peserta dari berbagai sekolah dan kampus di Surabaya. Para peserta diajak berdiskusi sekaligus mereview setiap selesai pemutaran film dengan tema yang beragam. Dalam acara itu, para peserta tidak hanya bisa bertanya tapi juga bisa mengkritik dan memberi masukan kepada para pembuat film.

“Ide para pegiat film indie itu masih murni, tinggal mengarahkan bagaimana mengemas pesan yang disampaikan bisa menarik atau tidak,” kata dosen film dan televisi Stikom Surabaya itu.

Menurut Pandan, ada banyak ide yang bisa diambil oleh para pegiat film indie. Misalnya, mereka yang tinggal di desa bisa mengambil budaya dan kearifan lokalnya. Mereka yang berada dalam lingkungan disabilitas bisa mengambil cerita dari sana.

Para pegiat film juga bisa mengangkat tema-tema tentang masyarakat yang terpinggirkan. Inilah keunikan dari film indie yang sebagian besar berupa film-film pendek, tanpa ada campur tangan dari pihak mana pun dengan embel-embel materi.

*Sumber : Cetak | Harian Surya | Citizen Reporter | Edisi Selasa, 26 Februari 2019 | Hal. 10